Prospek Pembangunan Kawasan Industi Terpadu Batang

Patricia Ruth Berita Alumni 01/10/2020

Ikatan Alumni Universitas Diponegoro DPD DKI Jakarta menggelar webinar dengan tema “Prospek Ekonomi Pembangunan Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang”, Kamis (1/10). Kegiatan ini dilakukan bersama IKA Planologi Undip, bekerja sama dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Kegiatan E-talks series ini dimoderatori oleh Koeshartanto Koeswiranto, Wakil Ketua IKA Undip DPD DKI Jakarta. Hadir sebagai narasumber, yaitu Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd. (Bupati Batang, Jawa Tengah), Mohammad Saleh, S.T. (Ketua Komisi A DPRD Jawa Tengah sekaligus Ketua IKA Planologi Undip), Ignatius Warsito (Direktur Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian), dan Yul Ari Pramuraharjo (Direktur Strategi Korporasi & HCM PT PP(Persero) Tbk.).

Dr. Noor Rachmad, S.H., M.H., Ketua IKA Undip DPD DKI Jakarta menjelaskan, latar belakang terselenggaranya webinar ini bermula dari hubungan kerja sama antara IKA Undip DPD DKI Jakarta dengan IKA Planologi, yang melihat Batang memiliki peluang besar untuk pembangunan prospek ekonomi.

Selanjutnya Ikmal Lukman, Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal BKPM memaparkan upaya BKPM dalam menjaga prospek pembangunan ekonomi di masa pandemi secara door to door.

“Dalam menjaga arus investasi di masa pandemi ini BKPM melakukan beberapa upaya, seperti memfasilitasi perusahaan existing yang sudah beroperasi, memfasilitasi potensi perusahaan yang belum tereksekusi, mencoba mendatangkan investasi baru, dan memberikan insentif  bagi perusahaan existing yang melakukan ekspansi,” tutur Ikmal.

Di tahun ini, imbuh Ikmal, Indonesia berhasil memenangkan 149 perusahaan untuk melakukan relokasi yang terbagi menjadi tiga kategori, yang berasal dari berbagai negara. “Kita mendapatkan tujuh perusahaan Cina untuk berelokasi dan sedang dalam tahap rekonstruksi, sehingga tahun depan akan mulai berproduksi. Untuk kategori dua ada 17 perusahaan yang masih dalam tahap komunikasi, dan 119 perusahaan berpotensi menanam modal di Indonesia, di antaranya berasal dari Amerika, Thailand, Korea Selatan, dan Hongkong,” paparnya.

Dalam upaya pembangunan KIT Batang, ada tujuh hal yang diperhatikan, seperti lokasi stategis, terintegrasi akses tol trans Jawa dan double track kereta api, akses pelabuhan, tenaga kerja terampil dan kompetitif, infrastruktur terintegrasi, konsep Smart & Sustainable Industrial Estate, dan dukungan penuh dari pemerintah pusat maupun daerah.

Ignatius Warsito menegaskan bahwa Batang memiliki prospek yang besar, mengingat Batang berada pada wilayah koridor utara di mana merupakan wilayah industri.

“Batang berada pada posisi strategis dekat Pelabuhan Batang, gerbang tol Kademan, dan Bandara Ahmad Yani. Batang dapat memfokuskan pada sektor Textile Industry and Miscellaneous Industry,” ungkapnya.

Mohammad Saleh sependapat dengan gagasan para narasumber. Namun, Ketua IKA Planologi Undip ini mengingatkan bahwa ada beberapa kendala yang harus diperhatikan dalam pembentukan KIT Batang, seperti kesesuaian lokasi RT/RW, perizinan, fasilitas yang mumpuni, konektivitas infrastruktur, dan penyediaan infrastruktur.

Yul Ari Pramuraharjo menyoroti dari segi masterplan, bahwa sebuah kawasan yang baik harus memiliki ruang hijau yang luas, ramah pejalan kaki, harus menjadi kawasan yang berkelanjutan, terintegrasi terhadap berbagai fasilitas, dan menjadi kawasan pembelajaran.

“Dalam pembangunan kawasan Batang kami ingin membangun masterplan yang baik, di mana kawasan ini memiliki ruang hijau yang lebih besar dari yang lain, adanya ruang bagi pejalan kaki. Kawasan ini harus menjadi kawasan yang berkelanjutan dan terintegrasi sehingga setiap fasilitas yang ada bisa dimanfaatkan sebaik mungkin, dan terakhir sebagai kawasan pembelajaran, di mana kawasan ini menjadi lingkungan belajar baik di bidang pendidikan maupun industri,” bebernya.

Di akhir webinar, Komisaris PT. IGN, Iryanto Hutagaol mengingatkan agar dalam mencari investor tidak hanya melirik investor luar, tapi juga memberikan ruang lebih untuk investor nasional maupun daerah. (Patricia)