Ikateka Undip Perkaya Wawasan Terkait Riset dan Industri

Patricia Ruth Berita Alumni 14/06/2021

Ikatan Alumni Teknik Kimia (Ikateka) Universitas Diponegoro menggelar webinar dalam rangka meningkatkan kualitas serta pemahaman terhadap dunia industri. Kegiatan yang dimoderatori oleh Gregorius Rionugroho Harvianto, Ph.D., (Senior Researcher Engineer di Benit M Co., Ltd. – Korea Selatan) ini mengundang dua narasumber, yaitu Dr. Satriyo Krido Wahono, S.T., dan Muhammad Zusron, M.Sc.

Satrio menjelaskan, Indonesia memiliki potensi utama di ranah sumber daya alam, yang dinyatakan dalam prioritas riset nasional. Pengembangan potensi nasional akan mendukung perekonomian nasional, salah satunya pada pengelolaan makanan Nusantara yang dilakukan BPTBA (Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam)-LIPI.

“Kami dari LIPI sedang mengembangkan usaha pengalengan untuk makanan tradisional khas Indonesia.” tutur alumnus Teknik Kimia Undip angkatan 2000 ini.

Ia menjelaskan, pemilihan pengembangan makanan tradisional dilakukan berdasarkan riset yang ditemukan di masyarakat. Sayangnya, pihaknya menemukan ada beberapa kendala seperti umur makanan yang rendah, produksi belum terstandar, jaminan belum maksimal, dan belum memiliki standar halal.

“Kendala utama yang kami dapatkan adalah makanan tradisional berumur pendek, padahal banyak masyarakat yang menyukainya, maka kami mencari cara untuk dapat mengekspor makanan tradisional dengan cara pengalengan,” ujarnya.

Satriyo mengungkapkan, pengalengan makanan dilakukan dengan bahan alami seperti garam dan rempah. Pengembangan pada makanan kalengan di tahun pertama telah berhasil mencatat 200 jenis makanan khas dari Sabang sampai Papua. Salah satu produk yang berhasil dikembangkan adalah gudeg Bu Tjitro di tahun 2015. Di tahun 2020 BPTBA-LIPI berhasil menjalankan pengelolaan produk di wilayah Jateng-DIY dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan.

“Di tahun ini didapatkan 137 pendaftaran yang menawarkan 40 jenis produk, namun setelah dilakukan proses yang panjang hanya 26 UMKM yang berhasil lolos memenuhi standar,” katanya. Ia menjelaskan, bagi para pelaku UMKM yang ingin bekerja sama tidak perlu takut, karena kegiatan riset dilakukan secara gratis dan pengurusan izin edar sangat cepat. Namun, Satriyo mengingatkan agar UMKM mempersiapkan secara matang persyaratan yang diminta serta dapat mengikuti lima tahapan kerja sama untuk pengalengan.

“Bagi UMKM yang ingin bekerja sama, kami sangat terbuka. Nantinya ada lima tahapan yang perlu dipahami, yaitu uji produk, riset, izin edar, komersialisasi, dan alih teknologi. Semua disiapkan sebaik mungkin dan tidak dipungut biaya apa pun,” jelasnya.

Di tahun 2021  LIPI sudah menghasilkan dua perusahaan di Magelang dan Bantul, dan juga memiliki empat produk berlisensi.  

Muhammad Zusron, CEO PT Algaetropia Indonesia Raya membagikan perspektif seputar penelitian di dunia industri. Ia sudah memulainya sejak masih kuliah dengan menjadi asisten dosen dan terlibat dalam proyek PKM (Pekan Kreativitas Mahasiswa), khususnya penelitian di wilayah pesisir. “Saya menyukai penelitian di bidang alga,” tutur Zusron.

Dalam melakukan penelitian ia menyadari adanya kesenjangan antara riset di universitas yang bertujuan menemukan hal baru, dengan penelitian korporasi yang bertujuan menghasilkan produk yang berkualitas.

Zusron juga membagikan tips untuk para peneliti muda agar dalam penelitian menetapkan dua hal utama, yaitu melakukan riset dan matching area produksi dengan formulasi produk. (patricia)