DPP IKA Undip dan DPP IKA FIB Undip Adakan Workshop Pendidikan

Patricia Ruth Berita Alumni 30/04/2021

Dewan Pengurus Pusat (DPP) IKA Undip dan DPP IKA FIB Undip mengadakan kerja sama dengan DPR RI dan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kerja sama tersebut berupa workshop bertema "Sekolah Tempat Menyemai Nilai-Nilai Pancasila dan Penangkal Radikalisme dan Terorisme", di Hotel Novotel, Semarang, Rabu (28/4).

Dalam sambutannya Dirjen PAUD Dikdasmen, Kemendikbud, Jumeri, S.TP., M.Si., menyatakan bahwa pendidikan merupakan cara terbaik untuk mengubah nasib. Hanya lewat pendidikan nasib anak-anak muda bisa berubah menjadi lebih baik.

Jumeri juga mengingatkan tentang masalah perundungan (bullying) yang masih kerap terjadi di sekolah. "Perundungan tidak hanya terjadi di lingkungan bermain, namun juga sering kali di sekolah, bahkan beberapa dilakukan oleh guru, mungkin juga kepala sekolahnya. Contoh perundungan di sekolah itu, seperti menganggap siswa itu underestimate. Jadi siswa yang dicap oleh gurunya itu sebetulnya sebuah perundungan," tutur Jumeri.

Jumeri mengingatkan, sekolah harus menjadi rumah kedua yang memberi rasa damai, aman, untuk menumbuhkan SDM yang hebat di masa mendatang. "Tapi kita masih dihantui kondisi sekolah kita yang masih tinggi tingkat intoleransinya," ujarnya. Oleh karena itu, lanjutnya, pentingnya bagi pihak sekolah untuk memastikan sekolah itu aman dari kemungkinan intervensi nilai-nilai intoleransi.

"Mari kita tingkatkan kewaspadaan, agar tercipta sekolah yang damai, menyenangkan, ramah anak, serta sekolah berkarakter dan sebagainya. Untuk itu kami dari kementerian memerlukan kerja sama semua pihak agar bisa mengatasi intoleransi di saat ini maupun di masa yang akan datang,” ungkapnya.

Sedangkan menurut Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Agustina Wilujeng Pramestuti, S.S., M.M., sekolah memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter seorang anak. "Pembentukan karakter seorang anak bisa diperkenalkan lewat seni dan budaya. Bila kita belajar seni dan budaya, maka secara otomatis kita belajar Pancasila,” ujar Agustin yang menjadi keynote speaker dalam workshop ini.

Ia menegaskan agar setiap sekolah mewajibkan pelajaran bahasa Indonesia dan Pancasila, sebagai upaya mengenal budaya dan menanamkan rasa cinta tanah air. "Kita akan kawal terus agar pelajaran bahasa Indonesia dan Pancasila menjadi pelajaran wajib. Karena ketika kita mengenalkan bahasa Indonesia, tentu kita akan mengenal budayanya. Bila bahasa Indonesia dihilangkan, maka akan menghambat pengenalan budaya kepada anak didik, apalagi bila Pancasila dihilangkan," tegas Ketua DPP IKA FIB Undip ini.

Agustina meminta kepada Dirjen PAUD Dikdasmen untuk membuat progran yang melibatkan guru, untuk mendiskusikan bagaimana sekolah menjadi tempat untuk menyemai nilai-nilai Pancasila dan menangkal radikalisme. "Ini hasilnya akan menjadi satu lagi tambahan sekelompok elit yang intelek mendukung Pancasila digerakkan melalui sekolah-sekolah, maka saya berharap diskusi ini nanti menjadi hidup, ada pertukaran informasi antara narasumber dengan peserta," harapnya.

Wakil Ketua Umum DPP IKA Undip, Drs. Akhmad Muqowam mengapresiasi pelaksanaan workshop yang dihadiri para guru SMP dan SMK di Kota Semarang. "Pancasila hendaknya benar-benar diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Muqowam.

Hadir pula dalam workshop tersebut para alumni Undip, seperti Wakil Ketua DPRD Jateng, Sukirman, S.S., dan Sekjen DPP IKA FIB Undip, Dr. Teguh Hadi Prayitno. Juga tokoh NU sekaligus dosen FISIP Undip, Dr. Drs. Muhammad Adnan, M.A., yang tampil sebagai narasumber, serta Kepala SMP Don Bosco Semarang. Ketua KPID Jawa Tengah, Muhamad Aulia Assyahdin, S.S., bertindak sebagai moderator. (patricia)