Dipo Waste Bank Solusi Atasi Sampah di Undip

Azza Iffana Berita UNDIP 06/06/2021

Masalah sampah masih menjadi isu penting bagi pemerintah, peneliti, juga badan organisasi di tingkat internasional, nasional, maupun lokal. Produksi sampah yang selalu meningkat, baik sampah rumah tangga hingga sampah industri memberikan dampak negatif di bidang kesehatan dan lingkungan apabila tidak segera diatasi. Pengelolaan sampah menjadi hal krusial yang harus digalakkan sebagai salah satu solusi atas permasalahan sampah di Indonesia.

Program Dipo Waste Bank yang diprakarsai oleh mahasiswa dan dosen Teknik Lingkungan Undip hadir untuk memecahkan masalah tersebut. Sabtu (5/6), Dipo Waste Bank resmi diluncurkan dalam acara “Webinar dan Soft Launching Dipo Waste Bank.” Mengambil tema “Kontribusi Bank Sampah Kampus dalam Mendukung Implementasi SDGs,” acara tersebut dihadiri oleh Rektor Undip, Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum.; Dosen Teknik Lingkungan Undip dan Pengelola Bank Sampah, Dr. Sri Sumiyati, S.T., M.Si.; Kepala DLH Kota Semarang, Drs. Sapto Adi Sugihartono, M.M.; dan Direktur Green Indonesia Foundation, Asrul Hoesein.

Prof. Ir. Ambariyanto, M.Sc., Ph.D., Wakil Rektor Riset dan Inovasi dalam pengantarnya mengatakan, pemilihan tanggal 5 Juni sebagai peluncuran Dipo Waste Bank sekaligus untuk merayakan Hari Lingkungan Hidup Internasional. “Webinar ini juga menjadi sarana dan titik awal lahirnya bank sampah yang akan dikelola di lingkungan Undip. Pemilihan pelaksanaan webinar ini bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Internasional yang diperingati pada 5 Juni,” ujarnya. Ia juga menjelaskan mengenai visi Dipo Waste Bank yaitu “Undip peduli dan mandiri dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan.”

Prof. Yos dalam sambutannya mengungkapkan, pembentukan Dipo Waste Bank adalah wujud kepedulian Undip dalam mengatasi permasalahan sampah secara berkelanjutan sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs). “Undip sejalan dengan program 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sudah kita lakukan pola-pola itu dalam bentuk sederhana. Namun Undip bertekad ingin melakukan 3R itu dengan lebih besar sehingga dampak manfaatnya akan lebih banyak dirasakan, maka kami membuat Dipo Waste Bank,” jelas Prof. Yos. Lebih lanjut, ia mengatakan jika hadirnya Dipo Waste Bank tidak hanya sebagai solusi mengatasi sampah, tetapi juga meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat sekitar Undip.

Asrul menjelaskan kondisi masyarakat Indonesia yang sering kali menggalakkan program untuk tidak memakai produk tertentu seperti plastik, justru mencederai UU. No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. “Harapannya intinya bukan pelarangan penggunaan produk, menurut kami mengantisipasi sampah plastik yang justru banyak yang dilakukan dengan pelarangan penggunaan produk-produk tertentu adalah keliru, tidak sesuai dengan amanat regulasi,” ungkap Asrul.  Menurut Asrul, pengelolaan sampah seharusnya bertumpu pada pembatasan timbulan sampah sejak dari sumbernya dan pemanfaatan sampah sebagai sumber daya atau sumber energi.

Sapto memaparkan, produksi sampah di Kota Semarang termasuk tinggi. “Di Kota Semarang, produksi sampah itu 100 hingga 200 ton per hari,” ungkapnya. Ia juga menjelaskan, Kota Semarang memiliki kebijakan dalam mengelola sampah, yakni menargetkan 30 persen pengurangan sampah dan 70 persen pengelolaan sampah. Pengurangan produksi sampah merujuk pada sampah-sampah yang bisa diolah dengan 3R.

Pengelolaan sampah, menurut Sri adalah kewajiban yang harus diterapkan oleh seluruh lapisan masyarakat. “Kalau kita lihat mengapa kita harus mengelola sampah ya karena di realitas kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari sampah,” ujar Sri. Ia memaparkan, sebaiknya setiap individu memiliki empat motivasi dalam mengelola sampah, yakni sarana untuk beribadah, menjaga lingkungan, bersosial, dan meningkatkan finansial.