Talkshow ke-14 SDGs Center Undip Bahas Ketahanan Pangan dan Pendidikan

Azza Iffana Berita UNDIP 09/05/2021

Setiap Jumat, SDGs Center Universitas Diponegoro menggelar talkshow yang disiarkan langsung oleh Radio Proalma FM. Pada Jumat (7/5) ini adalah talkshow ke-14, yang mengangkat tema “Meningkatkan Ketahanan Pangan, Mewujudkan Pendidikan Bermutu”. Hadir dua narasumber, yakni Prof. Dr. Ir. Bambang Waluyo Hadi Eko Prasetiyono (Dekan FPP Undip) dan Dr. Setya Budi Sasongko (Ketua LP2MP Undip).

Bambang menjelaskan bahwa masalah ketahanan pangan menjadi prioritas kedua, dalam program pembangunan berkelanjutan setelah masalah kemiskinan. “Masalah pangan ini sangat penting dan krusial bahkan menjadi suatu penyebab pergolakan, apabila suatu negara mengalami krisis. Jadi bagaimana men-zero-kan kelaparan di dunia ini berkepentingan dengan masalah pangan, sehingga ini menjadi suatu elemen penting bahkan urutan kedua,” jelasnya.

Lebih lanjut Bambang menjabarkan, untuk mencapai tujuan kedua dari Sustainable Development Goals (SDGs) tersebut,terdapat lima target yang harus dilakukan, yaitu menghilangkan kelaparan dan kekurangan gizi, menggandakan produktivitas pertanian, memastikan pertanian pangan berkelanjutan, mengelola keanekaragaman genetik, serta meningkatkan kapasitas produktivitas pertanian.

Di masa pandemi ini, Indonesia harus berbangga karena pertanian mampu mendongkrak angka PDB hingga mencapai 15,46 persen. “Dalam kondisi yang genting pun sektor pertanian masih mampu bertahan dibandingkan dengan sektor-sektor yang lain,” ujarnya. Dengan kenaikan angka tersebut, lanjutnya, pemerintah Indonesia harus membuat kebijakan-kebijakan strategis untuk memperkuat pertanian pedesaan di Indonesia, baik dari segi kelembagaan maupun petaninya.

Mengupas masalah pendidikan, Budi menjelaskan bahwa Indonesia saat ini sedang gencar meningkatkan pendidikan dari PAUD hingga perguruan tinggi, untuk bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. “Pendidikan berkelanjutan yang ada di sini, itu semua bisa mendapatkan pendidikan yang sifatnya setara,” ujarnya.

Membahas soal pendidikan di Indonesia akan bersinggungan dengan isu pergantian kurikulum. Saat ini, pemerintah Indonesia telah mengubah kurikulum dari KBI (Kurikulum Berbasis Isi) menuju KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Dua kurikulum tersebut memiliki perbedaan mendasar. “Kalau KBI itu yang penting isinya terpenuhi, selesai. Masalah siswanya bisa, yang penting adalah tugas daripada dosennya ataupun gurunya. Kalau KBI itu yang aktif adalah pengajarnya, kalau KBK yang aktif mahasiswa dan anak-anak didiknya,” jelas Budi.

Budi juga menyinggung tentang Kampus Merdeka yang kini tengah digalakkan Kemendikbud. Saat ini para mahasiswa dapat memilih mata kuliah yang disukai di dalam maupun di luar kampusnya. “Kalau untuk S1 itu kan ada 8 semester, 3 semester itu bebas (memilih mata kuliah, red.), 1 semester boleh memilih di PT sendiri, dan 2 semester boleh di luar PT,” jelasnya.

Menurut Budi, program Kampus Merdeka ini akan melatih soft skill mahasiswa, khususnya kemampuan adaptasi. “Ada kondisi sosial yang berbeda ketika mahasiswa memilih untuk belajar di kampus lain. Ini yang membuat salah satu soft skill itu adaptasi, apakah cepat beradaptasi, karena di dunia kerja itu harus switch-nya cepat. Dia harus bisa tanggung jawab di bawah tekanan,” pungkasnya.