Kupas Tuntas Industri Perkapalan Nasional bersama HIMATEKPAL Undip

Azza Ifana Berita Alumni 09/11/2022

Himpunan Mahasiswa Teknologi Rekayasa Konstruksi Perkapalan (HIMATEKPAL) Sekolah Vokasi Undip menggelar Seminar Perkapalan On Topic bertajuk “Analisa Perkembangan Industri Alutsista di Indonesia” secara virtual, Minggu (6/11). Kegiatan yang dihadiri hingga 300 peserta tersebut menghadirkan tiga narasumber terkemuka di bidang perkapalan. Mereka adalah Iqbal Fikri (Direktur Produksi PT. PAL Indonesia), Andhi Prasetyo (Senior Marine Surveyor Llyod’s Register Marine Indonesia), dan Ardhian Budi Sulistiyo (Senior Manager Operation Marine, SBU Marine & Offshore Migas Jakarta).

Kepala Program Studi Teknologi Rekayasa Konstruksi Perkapalan, Mohammad Ridwan menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membangkitkan penguatan aspek kelautan di Indonesia. “Semoga dengan acara ini kita bisa membangkitkan lagi rasa kelautan kita. Mengembalikan penguatan bahari di tangan kita. Karena ada banyak peluang ekonomi yang bisa diraih,” ungkapnya.

Adapun Ari Wicaksono, Ketua Ikatan Alumni Perkapalan Undip mengapresiasi kegiatan yang digalangi oleh teman-teman mahasiswa TRKP SV Undip ini. “Seminar Perkapalan ini menarik karena tidak semua perusahaan bisa berkecimpung dalam peralatan alutsista. Ini merupakan satu bidang yang punya risiko tinggi. Dari mulai kerahasiaan negara yang harus dijaga hingga risiko kecelakaan bagi operator atau pelautnya,” jelasnya.

Iqbal Fikri, salah satu narasumber memaparkan topik “Perkembangan Teknologi Maritim 4.0”. Iqbal menyampaikan hal serupa dengan Mohammad Ridwan. Alasan utama mengapa bisnis perkapalan sangat menjanjikan di Indonesia adalah karena belum banyak industri galangan kapal. “Di Sulawesi, Papua, Maluku kalau digabung hanya ada 30 galangan kapal, dibanding Jawa Timur yang punya 56 galangan kapal. Ini sudah terjadi disparitas yang cukup tinggi. Lihat ini sebagai peluang untuk membuat start up di Indonesia Timur yang punya potensi besar,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan mengenai industri galangan kapal nasional yang meliputi tujuh bidang usaha, yaitu pembangunan kapal baru, pemeliharaan perbaikan kapal, konversi kapal, pemeliharaan dan perbaikan produksi nonkapal, jasa konsultasi dan perekayasaan, rekayasa umum, dan jasa pemotongan kapal. Industri galangan kapal nasional ditandai dengan delapan karakteristik, seperti harus punya modal dan investasi yang tinggi, pendapatan dari total investasi akan kembali cukup lama, harus mengadopsi teknologi, harus mempunyai SDM yang berketerampilan tinggi, job order pembangunan kapal baru mengalami fluktuasi yang tinggi, penyelesaian proyek tidak bisa dalam satu tahun, terbatas dari sisi jumlah dan ukuran suplier, serta keunikan produksi galangan kapal.

Sementara itu, Andhi Prasetyo membawakan topik berjudul “Introduction for Naval Classification”. Andhi menjelaskan bahwa aturan pembuatan kapal perang dan kapal komersial sangat berbeda. Faktor pembedanya berasal dari fungsi kapal yang berbeda, perbedaan konvensi IMO, kondisi pengoperasian yang lebih luas, sumber daya teknik yang harus ditingkatkan sesuai dengan standar yang berlaku.

“Kapal komersial perjalanannya didesain dari satu pot ke pot lain, kalau kapal perang akan menjangkau lebih besar. Kapal komersial lebih stabil, sedangkan kapal perang harus bisa manuver dan bergerak lebih cepat. Selain itu, kapal perang tidak membawa barang-barang kargo sehingga didesain lebih runcing,” jelasnya.

Narasumber selanjutnya, Ardhian Budi Sulistiyo memaparkan mengenai topik “Proses Pemeriksaan Kapal dengan Metode Destructice Test (Pengujian Merusak) & Non Destructive Test (Pengujian Tidak Merusak)”. Ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pengujian merusak adalah jenis pengujian yang dilakukan dengan cara merusak (menarik, membelah, memotong, menekan, menumbuk/memukul benda yang akan diuji sesuai dengan standar.

“Biasanya dilakukan pada saat awal mendesain untuk mengetahui apakah materialnya aman atau tidak untuk dipakai,” ujarnya. Adapun pengujian tidak merusak dapat dilakukan dengan cara uji tarik, uji kekerasan, uji makro dan mikro, uji lengkung, uji breaking, uji nick break, uji breaking strength, drop test, uji tekan, dan uji puntir. (azza)