Pandangan Lembaga Pemeringkatan Nasional Dan Internasional Untuk Universitas Diponegoro

Azza Iffana Berita UNDIP 15/09/2020

Universitas Diponegoro atau yang biasa disebut Undip menjadi univeritas terbaik di Kota Semarang, tentunya hal ini didapatkan bukan dengan mudah ada ratusan ribu mahasiswa, alumni, dan pejabat Universitas Diponegoro yang turut andil mengharumkan nama Undip, dan kini sebagai apresiasinya Undip bisa menikmati hasilnya pengakuan dari lembaga pemeringkat nasional dan internasional, serta berbagai hasil karya Undip yang telah di catat dalam lembaga-lembaga yang berkompeten.

Berdasarkan hasil SNPMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) di tahun 2020, Undip berhasil meraih gelar Perguruan Tinggi Negeri terfavorit kedua setelah Universitas Brawijaya, di mana dari 85 PTN yang ada hampir setengah juta siswanya mendaftar ke dua universitas tersebut dengann rincian sebanyak 29.316 calon mahasiswa memilih Universitas Diponegoro dan 30.932 calon mahasiswa memilih Universitas Brawijaya.

Dalam HUT Kemerdekaan Repbulik Indonesia ke-75, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan pemeringkatan Klasterisasi Perguruan Tinggi, di mana Undip berhasil meraih peringkat 9 dalam klaster 1. Klasterisasi perguruan tinggi 2020 sendiri dinilai dalam empat indicator, yaitu Input, Process, Output, dan Outcome.

Indikator Input tebagi atas persentase dosen dengan pendidikan doktor (S3), dosen dengan jabatan Lektor Kepala dan Guru Besar, rasio jumlah mahasiswa terhadap dosen, jumlah mahasiswa asing, dan jumlah dosen bekerja sebagai praktisi di industri. Untuk Indikator process dinilai melalui akreditasi intitusi dari BAN-PT, akreditasi Prodi BAN-PT, pembelajaran daring, kerja sama, kelengkapan laporan PD Dikti, jumlah Prodi hasil kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau QS Top 100 World Class University (WCU) dan pelaksanaan program merdeka belajar yang meliputi program mahasiswa terhadap merdeka belajar.

Selain itu, indikator output terdiri dari jumlah artikel ilmiah terindeks per dosen, kinerja penelitian, kinerja kemahasiswaan, dan jumlah program studi yang terakreditasi internasional. Dan aspek outcome, dilihat dari kinerja inovasi, persentase lulusan yang memperoleh pekerjaan dalam waktu enam bulan, jumlah sitasi per dosen, jumlah paten per dosen, dan kinerja pengabdian masyarakat.