Hastry Purwanti, Perempuan Pertama di Tim Forensik Indonesia

Azza Ifana Berita Alumni 30/07/2021

Kombes Pol Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, SDM., Sp.F., alumnus Fakultas Kedokteran (FK) Undip angkatan 1990 ini merupakan polwan pertama yang jadi dokter forensik di Indonesia. Kiprahnya sebagai dokter forensik dimulai tahun 2005. Hal ini dia ungkapkan ketika menjadi narasumber dalam talkshow yang diselenggarakan IKA Medica Undip, Rabu (28/7).

“Pengalaman jadi dokter forensik itu dari tahun 2005 sampai sekarang. Saya lulus dari Fakultas Kedokteran Undip itu tahun 1997. Karena ingin bekerja di instansi pemerintahan, akhirnya ngelamar di POLRI,” cerita Hasty tentang awal mula berkarier sebagai polwan.

Mulanya dia ditempatkan di Polisi Daerah Jawa Tengah, lalu dipindahtugaskan ke Poltabes Semarang. Awal penugasannya di Poltabes Semarang itulah yang membuatnya jatuh cinta pada bidang kedokteran forensik. “Sebulan penugasan itu ada kasus pembunuhan dan saya ikut ke TKP, seharian di sana membantu kasus tersebut. Ternyata itulah cikal bakal saya menyukai dunia kedokteran forensik sampai sekarang,” ungkapnya.

Hingga kini Hastry telah menangani banyak kasus besar di Tanah Air, seperti bencana gempa bumi Yogyakarta (2006); bom Bali pertama dan kedua (2002 dan 2005); bom Hotel JW Marriott Jakarta (2009); identifikasi jenazah teroris Noordin M. Top (2009); gempa bumi Padang, Sumatera Barat (2009); dan kecelakaan pesawat Sukhoi SSJ-100 di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat (2012).

Hastry menuturkan bahwa bidang kedokteran forensik sangatlah luas. Dalam bidang ini, kemampuan untuk menggunakan seluruh ilmu kedokteran sangat penting. “Dunia forensik itu sangat luas sebenarnya berkembang terus di kedokteran forensik, ada patologi forensik, toksikologi forensik, forensik klinik, psikiatri forensik dan banyak hal lain,” jelasnya. Ia menjelaskan mengenai kasus kekerasan seksual pada perempuan dan anak sering kali membutuhkan forensik klinik, khususnya dalam membantu korban.

Lebih lanjut, perkembangan ilmu bidang kedokteran forensik juga diiringi kecanggihan. Saat ini, digital forensik sudah mulai berkembang. Hastry mencontohkan, saat ini sangat mudah untuk mengungkap identitas pelaku kejahatan mulai dari CCTV, pemeriksaan foto dan video porno, hingga ranah digital yang lain.

Sementara itu, kaitannya dengan bencana alam, bidang kedokteran forensik akan sangat bersinggungan dengan sektor lain. Untuk itulah, kerja sama lintas sektor akan sangat membantu.

“Saya sebagai dokter forensik kepolisian sangat terbantu sekali dari teman akademisi, LSM, TNI untuk membantu mengungkap kasus-kasus,” ujarnya.

Meski telah didapuk sebagai Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Hastry masih kerap membantu melakukan autopsi untuk mengidentifikasi korban. “Sampai sekarang saya masih kadang melakukan autopsi, jadi memang passion-nya di sini, ya saya kerjakan dengan baik,” pungkasnya.

Sumber foto: rayyana.id